Menggambar Rencana Pelat Lantai Bangunan

Dalam penggambaran konstruksi beton untuk keperluan pelaksanaan pembangunan gedung sangat berperan. Untuk itu perlu dikuasai oleh seseorang yang berkecimpung dalam pelaksanaan pembangunan.

Gambar konstruksi beton bertulang merupakan komponen dalam bangunan yang tidak dapat dipisahkan dengan komponen lainnya karena merupakan salah satu subsistem dalam bangunan. Dalam penggambaran kadang-kadang tidak sesuai dengan keadaan lapangan. Untuk itu dalam penggambaran harus sesuai dengan perencanaan, tetapi dalam pelaksanaan jangan sampai menyimpang terlalu jauh karena dapat mengakibatkan fatal atau kegagalan dalam konstruksi.

Pada materi gambar konstruksi beton ini akan menjelaskan tentang simbol yang dipakai, aturan, atau persyaratan dasar dalam konstruksi beton bertulang. Dengan adanya materi ini diharapkan dapat menjelaskan kepada orang lain bagaimana menggambar konstruksi beton yang benar tidak menyalahi aturan yang berlaku.

Dalam materi ini diawali dengan simbol-simbol, pembengkokan tulangan, persyaratan konstruksi beton bertulang untuk pelat dan balok, penggambaran konstruksi beton bertulang sesuai perhitungan konstruksi.


Simbol Konstruksi Beton Bertulang

Agar dalam penggambaran konstruksi beton bertulang dapat jelas dalam pembacaannya, maka perlu ada tanda atau simbol penunjang dalam penggambaran sehingga siapapun penggunanya dapat menterjemahkan gambar tersebut untuk diri sendiri maupun kepada orang lain. Ataupun pengertian gambar antara satu dengan lainnya sama.


Simbol/Tanda-Tanda dan Keterangan dalam Konstruksi Beton Bertulang

Tabel 10.1
Tabel 10.1 Simbol Tanda-Tanda dan Keterangan dalam Konstruksi Beton


Tabel 10.2
Tabel 10.2 Simbol Tanda-Tanda dan Keterangan dalam Konstruksi Beton


Tabel 10.3
Tabel 10.3 Simbol Tanda-Tanda dan Keterangan dalam Konstruksi Beton


Tabel 10.4
Tabel 10.4 Simbol Tanda-Tanda dan Keterangan dalam Konstruksi Beton


Menggambar Denah Rencana Penulangan Pelat Lantai

Gambar 10.1 Denah Penulangan Pelat Luifel

Ditentukan :
– Pelat luifel (lihat gambar di atas)
– Luas tulangan yang diperlukan A = 5,35 cm2

Diminta:
– Gambarkan penulangannya dengan skala 1 : 25!
– Hitung tonase tulangan yang diperlukan!
– Hitung kubikasi/volume beton yang diperlukan!


Gambar 10.2 Denah Penulangan Pelat Atap Satu Petak

Ditentukan:
– Pelat atap satu petak (lihat gambar di atas)
– Luas tulangan lapangan b sejajar lebat pelat = A lb = 5,82 cm2
– Luas tulangan lapangan l sejajar panjang pelat = A ll = 3,30 cm2
– Luas tulangan tumpuan b sejajar lebat pelat = A tb = 7,05 cm2
– Luas tulangan tumpuan l sejajar panjang pelat = A tl = 6,20 cm2

Diminta:
– Gambarkan penulangannya dengan skala 1 : 25!
– Hitung tonase tulangan yang diperlukan!
– Hitung kubikasi/volume beton yang diperlukan!


Gambar 10.3 Denah Penulangan Pelat Lantai

Ditentukan:
– Pelat lantai satu petak (lihat gambar di atas)
– Luas tulangan lapangan b sejajar lebat pelat = A lb = A lx = +6,82 cm2
– Luas tulangan lapangan l sejajar panjang pelat = A ll = A ly = +4,74 cm2
– Luas tulangan tumpuan b sejajar lebat pelat = A tb = A tx = –8,16 cm2
– Luas tulangan tumpuan l sejajar panjang pelat = A tl = A ty = –5,89 cm2

Diminta:
– Gambarkan penulangannya dengan skala 1 : 25!
– Hitung tonase tulangan yang diperlukan!
– Hitung kubikasi/volume beton yang diperlukan!

Catatan:
Tulangan pokok yang dipasang hanya boleh menggunakan besi tulangan diameter 8 mm dan 10 mm.


Gambar 10.4 Penulangan Pelat Lantai Lebih dari Satu Petak

Ditentukan:
Pelat lantai lebih dari satu petak (lihat gambar di atas)

– Pelat (a):       A lx = +5,42 cm2
A ly = +2,42 cm2
A tx = –6,28 cm2
A ty = –3,59 cm2
– Pelat (b):       A lx = +2,82 cm2
A ly = +2,62 cm2
A tx = –3,52 cm2
A ty = –3,14 cm2
– Pelat (c):       A t = 5,82 cm2

Diminta:
– Gambarkanlah penulangan pelat lantai tersebut di atas dengan skala 1 : 50!
– Hitunglah kebutuhan baja/besi beton bertulang dan kubikasi beton!


Menggambar Detail Potongan Pelat Lantai

Agar dalam penggambaran konstruksi beton bertulang untuk pelat luifel, atap dan lantai sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan perlu memahami ketentuan-ketentuan yang terkandung dalam konstruksi beton bertulang.

Jenis Tulangan
1)      Tulangan-tulangan yang terdapat pada konstruksi pelat beton bertulang adalah:
2)      Tulangan pokok
a.    Tulangan pokok primer, ialah tulangan yang dipasang sejajar (//) dengan sisi pelat arah lebar (sisi pendek) dan dipasang mendekati sisi luar beton.
b.   Tulangan pokok sekunder, ialah tulangan yang dipasang sejajar (//) dengan sisi pelat arah panjang dan letaknya di bagian dalam setelah tulangan pokok primer.
3)      Tulangan susut ialah tulangan yang dipasang untuk melawan penyusutan/pemuaian dan pemasangannya berhadapan dan tegak lurus dengan tulangan pokok dengan jarak dari pusat ke pusat tulangan susut maksimal 40 cm.
4)      Tulangan pembagi ialah tulangan yang dipasang pada pelat yang mempunyai satu macam tulangan pokok, dan pemasangannya tegak lurus dengan tulangan pokok. Besar tulangan pembagi 20% dari tulangan pokok dan jarak pemasangan dari pusat ke pusat tulangan pembagi maksimum 25 cm atau tiap bentang 1 meter 4 batang.

Pemasangan tulangan pembagi biasanya terdapat pada konstruksi pelat luifel/atap/lantai dan dinding. Tulangan pembagi berguna:
– Menahan tulangan pokok supaya tetap pada tempatnya
– Meratakan pembagian beban
– Mencegah penyusutan konstruksi

Pemasangan Tulangan

Ketentuan pada tulangan pokok pelat

Gambar 10.5 Tulangan Pokok Pelat

Keterangan:
T = Tebal pelat
t = Jarak bersih pemasangan tulangan
·      = 2,5cm ® minimal
   2,5 cm
·      = 2 T
·      = 20 cm
a = Selimut beton
a = 1,5 cm, bilamana berhubungan dengan air laut atau asam ditambah 1 cm

Apabila momen yang bekerja kecil, maka jarak tulangan pokok dari pusat ke pusat maksimal 40 cm.

Untuk segala hal tulangan pelat tidak boleh kurang dari 0,25% dari luas penampang beton (untuk keperluan tulangan pokok, pembagi, dan susut).

Tebal Pelat
Pelat atap   =   7 cm ® minimal 7 cm
Pelat lantai = 12 cm ® minimal 12 cm

Diameter Tulangan Pelat
Baja lunak ® tulangan pokok = Ø 8 mm dan tulangan pembagi Ø 6 mm
Baja keras ® tulangan pokok = Ø 5 mm dan tulangan pembagi Ø 4 mm

Pada pelat yang tebalnya lebih dari 25 cm, penulangan pada setiap tempat harus dipasang rangkap (dobel) dan ini tidak berlaku pada pondasi telapak.

Dinding
Untuk konstruksi dinding, yang perlu mendapatkan perhatian adalah tebal dari dinding vertikal (T) adalah:
Ø T = 1/30 bentang bersih
Ø Apabila menerima lenturan (M lentur) T = 12 cm ® minimal 12 cm
Ø Apabila tidak menerima lentur T = 10 cm ® minimal 10 cm
Ø Untuk dinding luar di bawah tanah tebalnya = 20 cm ® tebal minimal 20 cm

Penulangan dinding untuk reservoir air dan dinding bawah tanah:
Ø Tebal dinding (T) 30 cm < T = 12 cm
Ø Penulangan senantiasa dibuat rangkap
Ø Penulangan dinding yang horizontal dan untuk memikul susut serat perubahan suhu minimal 20% F beton yang ada
Contoh:
Tebal dinding 12 cm. Penulangan yang dibutuhkan setiap 1 m2 = 0,25 x 12 cm2 = 3 cm2
Ø Diameter tulangan pokok minimal Ø 8 mm dan tulangan pembagi minimal Ø 6 mm
Ø Apabila terdapat lubang pada dinding, maka harus dipasang minimal 2 Ø 16 mm dan diteruskan paling sedikit 60 cm melalui sudut-sudut lubang

Gambar 10.6 Penulangan Dinding Reservoir Air dan Dinding Bawah Tanah

Sistem konstruksi pada tepi pelat:
Ø Terletak bebas
Ø Terjepit penuh
Ø Terjepit elastis

Konstruksi Terletak Bebas
Apabila tepi pelat itu ditumpu di atas suatu tumpuan yang dapat berputar (tidak dapat menerima momen), misalnya pelat tersebut terletak di atas dinding tembok.

Gambar 10.7 Konstruksi Terletak Bebas

Konstruksi Terjepit Penuh
Apabila tepi pelat terletak di atas tumpuan yang tidak dapat berputar akibat beban yang bekerja pada pelat tersebut, misalnya pelat tersebut menjadi satu kesatuan monolit dengan balok penahannya.

Gambar 10.8 Konstruksi Terjepit Penuh

Konstruksi Terjepit Elastis
Apabila tepi pelat terletak di atas tumpuan yang merupakan kesatuan monolit dengan balok pemikulnya yang relatif tidak terlalu kaku dan memungkinkan pelat dapat berputar pada tumpuannya.

Pemasangan Tulangan
Pemasangan tulangan pelat yang dipasang pada empat sisi:
1)      Pemasangan tulangan untuk memikul momen lapangan dalam arah yang // dengan tepi pelat dapat dikurangi sampai setengahnya.
2)      Setiap sudut pelat yang ditumpu bebas, harus dipasang tulangan atas dan bawah dalam kedua arah. Ini akan berguna untuk menahan momen-momen puntir.
Jumlah tulangan untuk kedua arah harus diambil sama dengan jumlah tulangan yang terbesar, dan daerah pemasangannya = 1/5 bentang pelat.
Contoh:
Al = 2,96 cm2 ® Ø 8–17
Ab = 3,59 cm2 ® Ø 8–14
Maka tulangan disudut pelat tersebut, untuk atas dan bawah harus dipasang dalam ke dua arah yaitu Ø 8–14.

Gambar 10.9 Pemasangan Tulangan pada Empat Sisi

3)      Pada pelat-pelat, apabila l / b atau ly / lx > 2,5
a)   Untuk pelat satu petak
Ø Pada arah ly harus dipasang tulangan dengan besar momen (M ly) = 1/5 Momen lx atau = 0,2 M lx
Ø Pada tumpuan jarak ly juga harus dipasang tulangan dengan besarnya Momen (M ty) = 0,6 M lx dan bagian yang dipasang tulangan harus = 1/5 lx

Gambar 10.10 Pemasangan Tulangan untuk Pelat Satu Petak

Catatan:
l y = sisi pelat yang panjang
l x = sisi pelat yang pendek

b)   Untuk pelat menerus (lebih sari satu petak) dimana ly / lx > 2,5
Untuk pelat yang terjepit atau menerus dipasang tulangan tumpuan negative yaitu M ty = –0,3 M lx
Pelat terletak bebas, dipasang minimal 1/5 lx atau 0,2 lx dan pada sisi pendek harus juga dipasang tulangan tumpuan positif sebesar (M ty) M ty = + 0,3 M lx dan tulangan dipasang panjang minimal ½ lx

Gambar 10.11 Pemasangan Tulangan untuk Pelat Menerus

c)   Untuk pelat yang dipikul hanya 2 sisi yang sejajar
Ø Dianggap dengan perbandingan ly/lx > 2,5 dan hanya ada tulangan pokok
Ø M ly = Momen lapangan // lebar pelat
Ø M tx = Momen tumpuan // lebar pelat

Memilih Besi Beton
Untuk menentukan atau memilih diameter tulangan pada konstruksi beton bertulang setelah besaran atau luas tulangan hasil perhitungan didapatkan untuk keperluan penggambaran harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut.
– Daftar konstruksi beton bertulang
           i.   Luas penampang tulangan besi beton dalam cm2 untuk setiap lebar pelat 100 cm
         ii.   Garis tengah tulangan besi beton dalam mm, berat dalam kg/m dan luas penampang baja bulat dalam cm2
       iii.   Garis tengah tulangan besi beton dalam mm, berat dalam kg/m, luas penampang baja bulat dalam cm2 serta minimal lebar balok atau kolom dalam cm dengan ketebalan penutup balok tertentu dan diameter sengkang
– Ketentuan jarak minimal dan maksimal tulangan yang boleh dipasang
– Ketentuan jumlah minimal yang harus dipasang
– Ketentuan besarnya diameter minimal untuk suatu konstruksi
– Pilih diameter besi beton yang beredar dalam pasaran atau perdagangan

Memilih Besi Beton untuk Pelat
-  Tulangan terdiri dari tulangan tumpuan dan lapangan.
-  Teknik pemasangan ada yang lurus saja untuk kepraktisan dan kecepatan dalam pemasangan. Tetapi ada pula yang pemasangannya dibengkokkan pada ¼ bentang untuk daerah tumpuan dan lapangan, agar lebih hemat karena sesuai dengan fungsinya. Dan dalam perhitungan atau memilih tulangan lapangan dibagi 2 karena jalur pemasangan dibuat bergantian.
-  Tulangan lapangan dipilih terlebih dahulu dengan melihat daftar apakah luasnya sudah memenuhi sesuai dengan perhitungan, setelah itu baru menetapkan jarak tulangan. Ingat, jangan lupa minimal dan maksimal jarak tulangan serta minimal diameter tulangan yang boleh digunakan.
-  Kekurangan luas pada tumpuan dicari lagi besarannya dalam daftar sehingga luas tumpuan terpenuhi. Panjang tulangan tumpuan biasanya ¼ bentang pelat. Pada tulangan tumpuan perlu besi beton pengait atau tulangan pembagi dengan diameter Ø 8–20
-  Penulangan pelat atap pemasangannya sama dengan pelat lantai hanya saja perlu tulangan susut dengan tulangan diameter 6 mm jarak 40 cm (Ø 6–40). Pemasangan tulangan susut diharapkan tidak terjadi retak-retak karena perubahan cuaca.
-  Untuk pelat luifel terdiri dari tulangan pokok dan pembagi serta bilamana perlu diberikan juga tulangan susut yang menyilang terletak di bawah dengan diameter 6 mm jarak 40 cm (Ø 6–40).

Contoh Penggambaran Penulangan Pelat Luifel.

Gambar 10.12 Penulangan Pelat Luifel

Untuk pelat luifel sebuah bangunan kantor lihat gambar dibutuhkan tulangan A = 5,31 cm2. Gambarlah rangkaian penulangan luifel tersebut dengan mutu beton K 125 dan baja U22!

Penyelesaian:
A = 5,31 cm2 ® dipilih Ø 10–14 = 5,61 cm2 > 5,31 cm2 ® (OK)
Tulangan pembagi = 20% x 5,61 = 1,12 cm2 ® dipilih Ø6–25 = 1,13 > 1,12 cm2 (OK)

Contoh Penggambaran Penulangan Pelat Lantai:

Gambar 10.13 Penulangan Pelat Lantai

Suatu pelat lantai satu petak dibutuhkan tulangan seluas : Alx = 3,37 cm2; Aly = 2,37 cm2 ; Atx = 7,05 cm2 ; Aty = 5,00 cm2

Gambarkan penulangan pelat tersebut jika mutu bahan, beton : K175 dan baja : U22

Alx = 3,37 cm2 ® dipilih Ø 8–14,5 = 3,47 cm2 > 3,37 cm2 ® (OK)

Masuk tumpuan Atx = 3,47/2 = 1,73 cm2 ® Ø 8– 29

Tulang tumpuan tambahan Atx = 7,05 – 1,73 = 5,32 cm2 ® dipilih Ø 10–14,5
= 5,42 cm2 > 5,32 cm2 ® (OK)

Jadi, jumlah tumpuan Atx yang dipasang = 1,73 + 5,42 = 7,15 > 7,05 cm2

Tulangan pembagi yang dibutuhkan = 20% x 7,15 = 1,43 cm2 ® dipilih Ø 6–15
= 1,89 cm2 > 1,43 cm2 ® (OK)

Aly = 2,37 cm2 ® dipilih Ø 8–20 = 2,51 cm2 > 2,37 cm2 ® (OK)

Masuk tumpuan Aty = 2,51/2 = 1,25 cm2 ® Ø 8–40

Tulang tumpuan tambahan Atx = 5,00–1,25 = 3,75 cm2 ® dipilih Ø 10–20
= 3,93 cm2 > 3,75 cm2 ® (OK)

Jadi jumlah tumpuan Aty yang dipasang = 1,25 + 3,93 = 5,18 > 5,00 cm2

Tulangan pembagi yang dibutuhkan = 20% x 5,18 = 1,04 cm2 ® dipilih Ø 6–14,5
= 1,95 cm2 > 1,04 cm2 ® (OK)

Tulangan susut tidak perlu dipasang karena selalu terlindung.

Contoh Penggambaran Penulangan Pelat Atap

Gambar 10.14 Penulangan Pelat Atap

Pelat atap satu petak dibutuhkan tulangan seluas : Alx = 3,36 cm2 ; Aly = 1,89 cm2 ;
Atx = 6,83 cm2 ; Aty = 4,63 cm2

Gambarkan penulangan pelat tersebut jika mutu bahan, beton : K125 dan baja : U24

Alx = 3,36 cm2 ® dipilih Ø 8–14,5 = 3,47 cm2 > 3,36 cm2 ® (OK)

Masuk tumpuan Atx = 3,47/2 = 1,73 cm2 ® Ø 8–29

Tulang tumpuan tambahan Atx = 6,83 – 1,73 = 5,10 cm2 ® dipilih Ø 10–14,5
= 5,42 cm2 > 5,10 cm2 ® (OK)

Jumlah tumpuan Atx yang dipasang = 1,73 + 5,42 = 7,15 > 6,83 cm2

Aly = 1,89 cm2 ® dipilih Ø 8–20 = 2,51 cm2 > 1,89 cm2 ® (OK)

Masuk tumpuan Aty = 2,51/2 = 1,25 cm2 ® Ø 8–40

Tulang tumpuan tambahan Atx = 4,63 – 1,25 = 3,38 cm2 ® dipilih Ø 10–20
= 3,93 cm2 > 3,38 cm2 ® (OK)

Jadi jumlah tumpuan Aty yang dipasang = 1,25 + 3,93 = 5,18 > 4,63 cm2 ® OK

Tulangan pembagi yang dibutuhkan untuk tumpuan Atx = 20% x 7,15
= 1,43 cm2 ® dipilih Ø 6–15 = 1,89 cm2 > 1,43 cm2

Untuk tumpuan Aty = 20 % x 5,18 = 1,04 cm2 ® Ø 6–14,5 = 1,95 cm2 > 1,04 cm2

Tulangan susut perlu dipasang karena pelat atap tidak terlindung dari perubahan-perubahan.

Contoh Penggambaran Penulangan Pelat Atap dan Luifel

Gambar 10.15 Penulangan Pelat Atap dan Luifel

Sebuah rumah jaga dengan atap pelat datar dari beton bertulang.

Luas tulangan   Alx = 3,66 cm2
Aly = 4,45 cm2
Atx = 9,00 cm2
Aty = 6,79 cm2
      Luifel A = 5, 30 cm2

Untuk menjaga puntiran maka setiap sudut pelat dipasang tulangan dengan luas = 5,30 cm2

Alx = 3,66 cm2 ® dipilih Ø 10–20 = 3,93 cm2 > 3,66 cm2 ® (OK)

Masuk tumpuan Atx = 3,93/2 = 1,96 cm2 ® Ø 10–40

Tulang tumpuan tambahan Atx = 9,00 – 1,96 = 7,04 cm2 ® dipilih Ø 10–10
= 7,85 cm2 > 7,04 cm2 ® (OK)

Jumlah tumpuan Atx yang dipasang = 1,96 + 7,85 = 9,81 > 9,00 cm2

VW = 1/5 x 9,81 = 1,96 cm2 ® Ø 6–14 = 2,02 cm2 > 1,96 cm2 ® OK

Aly = 3,45 cm2 ® dipilih Ø 8–14 = 3,59 cm2 > 3,45 cm2 ® (OK)

Masuk tumpuan Aty = 3,59/2 = 1,79 cm2 ® Ø 8–28

Tulang tumpuan tambahan Atx = 6,79 – 1,79 = 5,00 cm2 ® dipilih Ø 10–14
= 5,61 cm2 > 5,00 cm2 ® (OK)

Jadi jumlah tumpuan Aty yang dipasang = 1,79 + 5,61
= 7,40 > 6,79 cm2 ® OK

VW = 1/5 x 7,40 = 1,48 cm2 ® Ø 6–15 = 1,89 cm2 > 1,48 cm2 ® OK

Luifel A = 5,30 cm2 ® Ø 10–10 // lx
  Ø 10–14 // ly

Contoh Penggambaran Penulangan Pelat Atap Lebih dari Satu Petak

Gambar 10.16 Penulangan Pelat Atap Lebih dari Satu Petak

Pelat (a)  Atx = 2.77 cm2 ® Ø 8–13 = 2,87 cm2 > 2,77 cm2
   Aty = 2.90 cm2 ® Ø 8–17 = 2,96 cm2 > 2,90 cm2
   Alx = 1.90 cm2 ® Ø 8–20 = 2,57 cm2 > 1,90 cm2
   Aly = 1,66 cm2 ® Ø 8–20 = 2,57 cm2 > 1,66 cm2

Pelat (b)  Atx = 4.16 cm2 ® Ø 8–12 = 4,19 cm2 > 4,16 cm2
   Aty = 2.90 cm2 ® Ø 8–17 = 2,96 cm2 > 2,90 cm2
   Alx = 1,90 cm2 ® Ø 8–20 = 2,51 cm2 > 1,90 cm2
   Aly = 1.66 cm2 ® Ø 8–20 = 2,51 cm2 > 1,66 cm2

Pelat Luifel (c) : 3,25 cm2 ®      Ø 8–12 = 3,87 cm2 > 3,28 cm2 // Atx
Ø 8–7 dan Ø 8–68 = 2,70 > 3,28 cm2 // Aty









Menggambar Rencana Pelat Lantai Bangunan, Teknik Gambar Bangunan SMK
Buku Sekolah Elektronik, Departemen Pendidikan Nasional

Tidak ada komentar: